Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak memberikan komentar ketika ditanya apakah Washington akan menangkap mantan Presiden Kuba Raúl Castro, menyamakan pendekatan tersebut dengan tindakan terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
“Saya tidak ingin mengatakan itu,” ujar Trump kepada awak media pada Rabu (20/5).
Sebelumnya pada hari yang sama, Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche menyampaikan bahwa setelah dakwaan terhadap Raúl Castro dikonfirmasi terkait dugaan konspirasi pembunuhan warga Amerika, pemerintah AS memperkirakan Castro dapat dihadirkan ke pengadilan, baik secara sukarela maupun dengan cara lain.
Blanche juga mengumumkan bahwa Raúl Castro didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk konspirasi pembunuhan warga negara Amerika, penghancuran pesawat, serta empat dakwaan pembunuhan.
Di sisi lain, pemerintah AS pada 29 Januari sebelumnya telah memberlakukan tarif terhadap impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba serta menyatakan keadaan darurat nasional atas dugaan ancaman keamanan dari Kuba.
Pemerintah Kuba menilai kebijakan embargo energi yang diberlakukan AS bertujuan menekan ekonomi negara tersebut dan memperburuk kondisi masyarakat.
Ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Bermúdez pada 3 Mei menyatakan bahwa ancaman militer Amerika Serikat terhadap Kuba berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menegaskan bahwa rakyat Kuba akan mempertahankan kedaulatan mereka.
Sementara itu, AS juga diketahui menjatuhkan sanksi baru terhadap konglomerat GAESA milik negara Kuba sebagai bagian dari tekanan ekonomi yang berkelanjutan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026